Ruang Pucat

Ruang pucat yang membuatku trauma

 

aku baru saja melangkah dalam gerimis yang dari pagi mericis,  hingga senja  tak kunjung reda. Ketika langit mulai gelap, lampu-lampu rumah yang mulai dinyalakan, dan malam begitu dingin. Aku  berjalan melewati rumah kecil dan suram. Rumah papan sederhana, reot, dan rapuh.  Rumah yang kecil tanpa jendela. Rumah itu nampak gelap dan sepi. Ketika aku melewati rumah itu, bulu kudukku merinding, Aku merasa kikuk olehnya ,tengkukku bergidik. aku terdiam dan mempercepat langkahku. Hatiku merasa janggal dan aneh sejak melewati rumah itu, seperti ada bayang-bayang yang tengah mengikutiku. Tapi anehnya ketika aku menoleh kebelakang tiba-tiba bayangan itu menghilang. Jantungku  berdetak kencang tak karuan, aku menghela nafas panjang dan mencoba menenangkan diriku. Mungkin  hanya halusinasiku saja.  tetapi semakin lama, aku semakin tak tenang. aku mendengar  rintihan seorang nenek tua minta tolong.  suara itu semakin dekat, nyaring di telingaku. Suara itu mengejarku.

Sekonyong-konyong aku berancang-ancang, sedapat mungkin aku berlari, nafasku tersengal-sengal, pruaaaak,,,, kakiku tersandung batu , aku jatuh terpeleset dan tergelincir kedalam got yang sungguh kotor, pekat, dan bau. Aku mencoba keluar dari got itu, sekujur tubuhku basah  menapaki  jalan itu, jalan banten yang becek dan seringkali banjir. Dalam senyap tubuhku basah mengigil, mukaku pucat seketika, tanganku gemetar, aku mencoba untuk tenang, dan melanjutkan perjalanan menuju rumah kontrakan. Meski sepertinya aku tak sanggup lagi untuk berjalan, luka di kakiku yang lumayan parah membuat aku harus sedikit menyeretnya, dan suara itu, suara nenek tua itu terasa semakin dekat denganku.

* * *

Sesampainya aku didepan rumah  aku mencoba mengetuk-ngetuk pintu, tapi tak satu orangpun mendengar salamku. Sekonyong-konyong suara nenek tua itu masih saja mengikuti aku.

“ assalamualaikum, bu…ibu…buka pintunya bu,,”.

Malam semakin gelap, hujan yang menngguyur tubuhku membuatku lemas dan kaku.  Suaraku parau, aku merintih kedinginan. Pandanganku semakin tak jelas, penglihatanku kabur, karena kacamata yang aku kenakan penuh dengan air.  Rasa dingin sepertinya telah menghunus dan  menyelimuti tubuhku, membuatku hilang kendali, luka di kakiku yang berlumuran darah membuatku tak kuat lagi menegakkan tubuhku,  akupun tergeletak lemas didepan pintu, setelah itu aku tak mengetahui apa-apa lagi.

* * *

 Ketika aku membuka mata, terlihat langit-langit pucat berbau rumah sakit, kaki dan kepalaku penuh dengan perban.

Disampingku terlihat ada ayah dan ibu yang tengah terjaga menungguku. Ayah menatap aku dengan tajam, membelaiku dengan lembutnya, menggenggam tanganku erat, seolah tak mau melepasnya. Sejenak aku dan ayah saling menatap satu sama lain, lekat dan semakin lekat ayah menatap wajahku.

“ akhirnya kamu sadar Ca, ayah sayang sama kamu,.”.

“ iya ayah, Caca juga sayang sama ayah ‘.

“ jangan pernah tinggalin ayah nak..”

“ maksud ayah apa, Caca nggak ngerti yah?”. Jawabku lirih

Aku tak mengerti dengan kata-kata ayah, ayah tak menjawab pertanyaanku, ia hanya   tersenyum tipis dan dan kembali menatapiku lekat-lekat. Senyum ayah yang bernuansa masam dan sedih, mata yang meraput sayup menandakan betapa ia sangat cemas dan khawatir dengan keadaanku. Ayah memalingkan senyumnya dariku ke bingkai jendela, lalu ia keluar dari kamar dan tak memeberiku jawaban. Aku merasa ada yang tidak beres dengan sikap ayah.  Ibu juga hanya tersenyum melihat sikap ayah.

“ sebenarnya Caca kenapa bu, kenapa sikap ayah aneh..?”.

“ kamu nggak papa Ca…”. Jawab ibu singkat

“ kalau Caca nggak papa, kenapa Caca ada disini ?”.

Ibu terdiam sejenak dan memalingkan pandangannya dariku, kemudian beliau angkat bicara,

“ sudah tiga hari kamu di rawat di rumah sakit dan sekarang baru sadar ca”.

“ sebenarnya apa yang terjadi dengan caca bu, caca kenapa bu ?”.

Sejak kejadian malam itu, aku sama sekali tidak ingat apa-apa.   keringat dingin mengucur di keningku, susah payah aku mengingatnya, tapi kepalaku terasa sakit saat aku mencoba untuk mengingatnya. aku bingung sebenarnya apa yang terjadi denganku. Jiwaku dihantui  rasa takut yang cukup mendalam, sepertinya sesuatu yang besar telah terjadi padaku. Aku terbelalak memandangi langit-langit kamar dimana aku di rawat.  Seketika aku melihat orang menjerit kesakitan karena kakinya harus di amputasi. kecelakaan yang membuat kakinya membusuk, membuat ia harus kehilangan salah satu kakinya. Ditambah lagi salah satu pasien meninggal akibat operasi tumor otak, dan  nyaris didepan mataku.

 “ ya allah kenapa aku bisa terjebak dalam ruang pucat ini ”.

aku seperti orang yang tak sengaja menelelan jarum dan susah mengeluarkannya. Aku tak tahu bagaimana mengatasi rasa takut dan traumaku. Trauma akan ruang pucat ini. Sebenarnya apa yang terjadi padaku.

* * *

Matahari senja nyaris tenggelam di belahan barat langit. Seribu perasaan bercampur dengan beragam kecamuk di kepalaku.

Setelah beberapa hari aku meninggalkan ruang pucat itu, dengan penuh upaya aku ingin kembali melanjutkan kuliahku. Aku sangat rindu dengan suasana belajar, bercanda dengan sohibku, dan aku rindu dengan masakan ibu yang membuatku geger bila harus berebut dengan ayah dimeja makan. Terkadang jika aku sudah mulai bererebut dengan ayah, ibu hanya tersenyum melihat tingkah romantisku dengan ayah. Usainya aku dan ayah berlutut dihadapan ibu, memintanya untuk dimasakin menu special yang barusan tersaji dimeja makan. Ayah mengajariku banyak hal. Mulai dari bermain bola, bagaimana memelihara ikan, sampai memancing ria saat piaraan ikan dikolam kami siap dipanen.

Namun ketika aku harus kembali kuliah, Lagi-lagi aku harus berjalan melewati sebuah trotoar banten yang kerap kali becek,  dan  aku harus melewati rumah reot yang nampak angker dan sepi itu, aku merasa merinding dan aneh. Kepalaku mulai sakit dan aku begitu merasa ketakutan, aku pun bergegas untuk cepat meninggalkan rumah reot yang tampak seram itu.

Setibanya aku dikampus fikiranku makin tak tenang, makin aku mencoba mengingat – ingat tentang rumah itu kepalaku makin terasa sakit. Aku berusaha mengingat sedapat mungkin, tapi aku benar-benar tak ingat. Sejenak aku termenung, aku begitu heran, sebenarnya apa yang terjadi pada diriku hingga aku terjerat dalam ruang pucat itu. Aku sungguh ketakutan bila melintasi rumah reot dan penuh misteri itu.

Sedikit yang ku ingat sebelum aku terperangkap dalam ruang pucat itu, terakhir aku baru saja pulang dari kampus, setelah itu aku tak ingat apa-apa sampai sekarang.

“…cukuplah Allah menjadi penolong kami dan allah adalah sebaik-baik pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar dari) allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan  allah. Dan, allah mempunyai karunia yang besar.”

* * * * *

Beberapa waktu setelah kondisiku pulih, ayah memintaku untuk mengingat hal-hal yg membuatku ketakutan. Dan aku pun mulai bercerita pada ayah, aku hanya ingat tentang rumah reot dan rapuh itu, lantaran suara nenek tua itu sepertinya selalu menghantuiku. Setelah panjang lebar ayah mendengarkan ceritaku, ayah hanya tersenyum geli. Aku heran melihat ayah yang tersenyum mendengar ceritaku. Usai memandangiku ayah  baru menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ayah mengatakan padaku, bahwasanya rumah yang aku lewati malam itu hanyalah rumah yang digunakan untuk misteri hantu sebuah pasar malam, yang di buat sedemikian rupa sehingga nampak seperti angker. Sungguh penjelasan yang aneh ditelingaku, hal yang sulit diterima. Hal yang bisa membuatku terjebak diruang pucat ini. dan aku tak mengetahui hal itu sebelumnya. “ Huuh,, ini sangat konyol ayah”. gerutuku

Ayah tersenyum lalu memelukku, kemudian aku tertawa heran dan geli mendengar penjelasan ayah. Ayah selalu bisa membuatku tersenyum ceria meskipun keadaanku sangat miris. Aku ikut sumringah melihat ayah terkikik. Tersenyum di balik traumaku di ruang pucat ini

                                                                                            
                                                                                                                    Umi Nasiyah

Komentar